Pemasar dari Jogja berpantun

Setiap kampanye butuh sampiran yang menyentuh, sebelum isi yang menjual.

Saya menulis strategi pemasaran seperti orang Jogja menulis pantun — pelan di awal, kena di akhir. Setiap baris punya alasan, setiap rima punya tujuan.

sampiran hari ini

Siapakah dia?

Kang Sip, pemasar dari Jogja yang bicara lewat pantun.

Sepuluh tahun mendampingi UMKM dan brand lokal naik kelas — dari lapak Pasar Beringharjo sampai etalase digital. Baginya, angka konversi dan rima itu sama: keduanya butuh ketukan yang pas.

120+

brand dibimbing

10 th

di dunia pemasaran

Jogja

kota yang selalu jadi rumah

Cara kerja

Tiga langkah, disusun seperti pantun.

Sampiran nggak ditulis buru-buru, isinya juga baru dipetik setelah tahu betul apa yang mau disampaikan.

  1. 1

    Dengar dulu

    Ngobrol soal produk, pelanggan, dan tujuan kampanyemu. Sampiran yang baik lahir dari mendengarkan, bukan template.

  2. 2

    Racik sampiran & isi

    Cerita pembuka ditulis dulu, baru pesan penjualan disusun menyatu — supaya kena, bukan sekadar rima.

  3. 3

    Luncurkan & ukur

    Kampanye jalan, hasilnya dipantau, dan pantun berikutnya makin tajam berkat yang dipelajari.

Kumpulan pantun

Ketuk kuncupnya, biar isinya mekar.

Tiap kartu punya sampiran dan isi — persis strategi pemasaran, selalu ada pengantar sebelum pesan utama.

Ajak kolaborasi

Mau kampanyemu dibuka dengan pantun juga?

Ceritakan produkmu, biar Kang Sip yang meracik sampiran dan isinya — pas untuk feed, caption, atau baliho depan toko.

Ajak Kang Sip ngobrol