Pemasar dari Jogja berpantun
Saya menulis strategi pemasaran seperti orang Jogja menulis pantun — pelan di awal, kena di akhir. Setiap baris punya alasan, setiap rima punya tujuan.
sampiran hari ini
Siapakah dia?
Sepuluh tahun mendampingi UMKM dan brand lokal naik kelas — dari lapak Pasar Beringharjo sampai etalase digital. Baginya, angka konversi dan rima itu sama: keduanya butuh ketukan yang pas.
120+
brand dibimbing
10 th
di dunia pemasaran
Jogja
kota yang selalu jadi rumah
Cara kerja
Sampiran nggak ditulis buru-buru, isinya juga baru dipetik setelah tahu betul apa yang mau disampaikan.
Ngobrol soal produk, pelanggan, dan tujuan kampanyemu. Sampiran yang baik lahir dari mendengarkan, bukan template.
Cerita pembuka ditulis dulu, baru pesan penjualan disusun menyatu — supaya kena, bukan sekadar rima.
Kampanye jalan, hasilnya dipantau, dan pantun berikutnya makin tajam berkat yang dipelajari.
Kumpulan pantun
Tiap kartu punya sampiran dan isi — persis strategi pemasaran, selalu ada pengantar sebelum pesan utama.
Ajak kolaborasi
Ceritakan produkmu, biar Kang Sip yang meracik sampiran dan isinya — pas untuk feed, caption, atau baliho depan toko.
Ajak Kang Sip ngobrol